Ada kemuliaan yang tak nampak dalam semua hal yang telah dilakukan serta dialami Kristus di dunia ini

Bagi orang Kristen, Paskah penuh dengan lambang yang bersifat nubuat karena menunjuk kepada Yesus Kristus. PB dengan tegas mengajarkan bahwa hari raya Yahudi merupakan “bayangan dari apa yang harus datang” (Kol 2:16-17; Ibr 10:1), yaitu penebusan melalui darah Yesus Kristus. Perhatikan hal-hal berikut dalam pasal Kel 12:1-51 yang mengingatkan kita pada Sang Juruselamat dan kehendak-Nya bagi kita.

Pengorbanan Kristus adalah puncak penebusan Allah untuk umat manusia. Oleh karena itu, tidak mengherankan kita dapat menemukan beberapa ayat di Perjanjian Lama yang berkaitan dengan Paskah.

Alkitab mengecam orang-orang yang mencampur ibadah kepada Allah dengan tradisi dan kebiasaan yang tidak Ia sukai. (Markus 7:6-8) Menurut 2 Korintus 6:17, ”’Pisahkanlah dirimu,’ kata Yehuwa, ’dan berhentilah menyentuh perkara yang najis.’” Paskah adalah hari raya kafir yang akan dihindari orang-orang yang ingin menyenangkan Allah.

Sejak saat yang bersejarah itu, umat Allah senantiasa merayakan Paskah setiap musim semi, sebagai tanggapan kepada perintah-Nya bahwa Paskah merupakan “ketetapan untuk selamanya” (Kel 12:14). Akan tetapi, Paskah merupakan korban peringatan. Hanya korban yang disembelih di Mesirlah yang merupakan korban yang efektif. Sebelum Bait Suci didirikan, setiap hari Paskah orang Israel berkumpul di rumah, menyembelih seekor anak domba, menyingkirkan semua ragi dari rumah mereka dan makan sayur pahit. Yang lebih penting lagi, mereka menceritakan kembali kisah keluaran luar biasa para leluhur mereka dari Mesir dan perbudakan kepada Firaun. Jadi, dari angkatan ke angkatan, umat Ibrani ingat akan penebusan dan pembebasan mereka dari Mesir

Inti dan jiwa peristiwa Paskah adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Allah mengeluarkan orang Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, tetapi karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjian-Nya (lih. Ul 7:7- 10). Demikian pula, keselamatan yang kita terima dari Kristus sampai kepada kita melalui kasih karunia Allah yang menakjubkan (lih. Ef 2:8-10; Tit 3:4-5).

Inilah berita yang mengejutkan dan membawa sukacita bagi mereka.  Tidak hanya berhenti sampai disitu, ketika mereka hendak bergegas meninggalkan kubur itu dalam keadaan takut namun bersukacita, Yesus menjumpai mereka dan berkata,  “Salam bagimu”, …. (Selamat atau Damai bagimu atau damai untukmu). Artinya apa? Allah telah berdamai dengan manusia. Dan perempuan-perempuan ini menjadi saksi atas perdamaian itu. “Jangan takut….”. Perhatikan bahwa dalam perikop ini, kata TAKUT diulang sampai tiga kali. Ini menandakan bahwa Kebangkitan Kristus adalah melenyapkan ketakutan. Ketakutan yang disebabkan oleh dosa yang mengikat dan mengkungkungi umat manusia.
Peristiwa Paskah bagi kita sekarang ini, bukan hanya sekedar mengatakan bahwa kubur telah kosong. Tetapi itu harus menjadi kenyataan yang riil dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang percaya. Adalah bahwa, berita pendamaian, berita kehidupan yang membawa sukacita itu harus menjadi milik semua orang.

Dalam Alkitab terdapat pernyataan-pernyataan tentang kejahatan manusia, yang akan bersaksi sepanjang masa. Dalam menggambarkan hukuman mati yang dialami oleh Yesus Kristus, para penulis kitab Injil menggunakan kata-kata, “Mereka menyalibkan-Nya”. Sebelumnya, belum pernah ada Seorang yang tidak bersalah menanggung caci-maki dan direndahkan begitu rupa oleh manusia. Keseluruhan proses tersebut merupakan pengungkapan akan dosa manusia yang mengerikan.

Darah yang dipercikkan pada tiang pintu dan ambang atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam setiap keluarga dari kematian; darah ini menunjuk kepada penumpahan darah Yesus di salib supaya menyelamatkan kita dari kematian dan dari murka Allah terhadap dosa (Kel 12:13,23,27; Ibr 9:22). 3) Anak domba Paskah itu adalah sebuah “korban” (Kel 12:27) yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung; korban ini menunjuk kepada kematian Yesus Kristus sebagai ganti kematian orang percaya

Memakan daging anak domba itu melambangkan pemanunggalan masyarakat Israel dengan kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Demikian pula, ikut serta dalam Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan kita dalam kematian Kristus, kematian yang menyelamatkan kita dari kematian rohani (1Kor 10:16-17; 1Kor 11:24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah, hanyalah korban yang pertama, kematian-Nya di salib, menjadi korban yang efektif. Kita mengadakan Perjamuan Kudus sebagai suatu “peringatan” akan Dia (1Kor 11:24). Alkitab menulis tentang kekejaman yang tak berbelas kasihan dari para prajurit Romawi. Mereka mencambuk dan memukul Dia. Mengolok-olok Dia. Meludahi Dia. Memakaikan mahkota duri pada kepala-Nya. Mereka membawa Dia keluar dalam keadaan penuh luka dan darah, dan menyalibkan-Nya. Sungguh mengerikan!

Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang atasnya dilaksanakan dengan iman yang taat (Kel 12:28; bd. Ibr 11:28); tanggapan iman ini mendatangkan penebusan melalui darah (Kel 12:7,13). Keselamatan melalui darah Kristus diperoleh hanya melalui “ketaatan yang disebabkan oleh iman” (Rom 1:5; bd. Rom 16:26). 7) Anak domba Paskah harus dimakan bersama dengan roti yang tidak beragi (Kel 12:8). Karena ragi dalam Alkitab biasanya melambangkan dosa dan pencemaran

Setelah penyaliban dan kematian Yesus, para murid dan perempuan-perempuan yang setia melayani Yesus tidak berani keluar rumah.  Ketakutan yang  memang beralasan karena  keberadaan mereka tidak dapat dilepaskan dengan sosok Yesus yang disalib oleh Orang-orang Yahudi dan tentara Romawi.  Peristiwa penyaliban Yesus dapat saja menyeret mereka pada bahaya bahwa mereka adalah pengikut-pengikut Yesus. Dengan kata lain, bukan tidak mungkin merekapun menjadi target berikutnya dari para Imam, orang Yahudi dan penguasa Romawi. Mereka hanya menunggu apa yang akan terjadi setelah Yesus di salib dan mati. Dan pada hari Minggu pagi itu,  Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi menengok kubur dimana Yesus dikuburkan.  Apa yang terjadi? Ditengah perasaan yang tidak menentu, perasaan takut yang masih menyelimuti, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Malaikat Tuhan.  Malaikat Tuhan yang menyapa mereka,  “Janganlah takut….Ia tidak ada disini. Ia telah bangkit “.

Darah Kristus telah membuka jalan, yang menuju ke tempat kudus. Jalan ini disebut baru dan hidup.

Setiap orang percaya harus mempersiapkan diri secara rohani agar dapat bersekutu dengan Allah. Orang Kristen Perjanjian Baru datang kepada Allah dengan hati nurani yang suci dan bersih. Persekutuan dengan Allah menuntut kesucian (1 Yoh. 1:5-2:2).50 Oleh sebab itu, penulis surat Ibrani memberikan beberapa sikap dalam menghadap Allah dalam ibadah.

Secara umum Ibrani 10:19-25 mengajarkan suatu pengertian tentang hidup beriman. Jemaat Kristus sebaiknya memanfaatkan sepenuhnya kesempatan waktu yang tersedia ini. Mereka hendaknya memanfaatkan peluang untuk menghampiri Allah secara bersama-sama dalam pertemuan ibadah. Sebab Kristus, Anak Allah dan imam besar yang abadi menurut peraturan Melkisedek telah memungkinkan hal ini dilaksanakan. Pengajaran ini merupakan perluasan dari Ibrani 4:13-16 yang mendorong jemaat untuk maju dengan berani di dalam iman.

Berkumpul dan bersekutu dalam suatu pertemuan jemaat (ibadah) merupakan dua bukti iman yang hidup. Jika semangat merosot dan iman memudar, keinginan untuk bersekutu dengan orang-orang percaya lain juga berkurang. Melalui saat-saat berkumpul ini, setiap anggota jemaat dapat saling mendorong semangat sebagaimana diperintahkan dalam ayat 24. Pada saat orang-orang Kristen berjumpa dalam suatu persekutuan, mereka akan saling mendorong untuk melaksanakan pelayanan yang menghasilkan buah dan persekutuan yang berkesinambungan. Bahaya kemurtadan muncul apabila orang-orang percaya gagal untuk berkumpul dengan tujuan saling menolong untuk setia dalam iman (parakalountes, “saling memberi semangat“).

Kematian Kristus itu merupakan suatu tanda yang menyatakan, bahwa Allah sudah menetapkan suatu perjanjian yang baru dengan manusia.
surat Ibrani menerangkan bahwa Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup untuk menghampiri Allah dengan jalan yang baru ini dan yang hidup, umat-Nya tidak perlu mengikuti cara yang lama dalam menghampiri Allah. Melalui pengorbanan Yesus, jalan itu terbuka dan memberikan hidup kepada umat-Nya. Hal ini berarti bahwa korban dari tubuh Yesus (lih. 10:10) adalah jalan kepada Allah yang sekarang terbuka bagi orang Kristen. Ini mencakup bahwa “tubuh” Yesus bukanlah rintangan untuk mendekati Allah, melainkan jalan yang sesungguhnya untuk mendekati-Nya. Atas dasar jaminan-jaminan inilah bahwa orang percaya (orang Kristen) mempunyai keberanian untuk masuk ke hadirat Allah karena memiliki Imam Besar yang hidup.

Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata:“Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki– tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku –. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosaEngkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata:Sungguh, Aku datang;dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Akuuntuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” Di atas Ia berkata: “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” — meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat –. Dan kemudian kata-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, sebab setelah Ia berfirman:“Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan merekasesudah waktu itu,” Ia berfirman pula:“Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati merekadan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosadan kesalahan mereka.” Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Nasihat di Ibrani 10:24-25 tidak diberikan di dalam kevakuman. Ada alasan-alasan tertentu mengapa nasihat ini perlu disampaikan.

Alasan pertama berhubungan dengan situasi konkrit para penerima surat yang sedang menghadapi bahaya kesesatan dan tekanan. Agama Yudaisme ingin diterapkan pada orang-orang Kristen, sehingga penulis Surat Ibrani merasa perlu menjelaskan keutamaan Kristus dari Musa, Harun, bait Allah, dsb. Para penerima surat diberi peringatan yang serius dan keras (10:26-31). Mereka dinasihati untuk terus bertahan (10:32-39). Di tengah situasi seperti inilah nasihat untuk terus memupuk persekutuan antar orang percaya diberikan. Dengan kata lain, persekutuan (koinonia) merupakan sarana ilahi yang efektif dalam melawan kesesatan dan tekanan.

Alasan lain berkaitan dengan posisi penerima surat di hadapan Allah. Secara tata bahasa nasihat di 10:24-25 merujuk balik pada 10:19-21. Karena jalan masuk kepada Allah melalui ibadah telah dibuka oleh darah Kristus yang sempurna (10:19-21), kita harus menghadap Allah dengan keberanian dan kesucian (10:22), memegang teguh iman kita (10:23), dan mengembangkan koinonia secara tepat (10:24-25). Pendeknya, bagaimana kita di hadapan Allah seyogyanya mempengaruhi bagaimana kita di hadapan manusia.

Ibrani 10:24-25 merupakan satu kalimat, dengan induk kalimat terletak pada bagian awal ayat 24a, yaitu orang percaya seharusnya saling memperhatikan. Ayat 24b menerangkan tujuan dari budaya saling memperhatikan tersebut, sedangkan ayat 25 menjelaskan wujud konkrit dari perhatian itu.

jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? Sebab kita mengenal Dia yang berkata:“Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

brani 10:25
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Kita dituntut supaya tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Ibadah itu membangun, menyatukan tubuh Kristus dan belajar menjadi dewasa di dalam Tuhan.

Tidak ada pengorbanan atau penderitaan yang terlalu besar dalam hal mencari yang hilang dan membawanya kepada Yesus

Kasih Allah bagi mereka begitu besar sehingga Ia tidak putus-putusnya bersedih hati atas mereka dan menunggu mereka kembali kepada-Nya.
dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati u selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini (Yohanes 26:11).

Pengikut-pengikut Yesus berangkat, lalu pergi ke desa-desa untuk memberitakan Kabar Baik itu dan menyembuhkan orang sakit di mana-mana.

kunci Injil Lukas menyatakan bahwa “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk 19:10). Tiga perumpamaan dalam pasal Luk 15:1-32 menggambarkan tujuan misi Yesus ke bumi ini dan menyatakan kerinduan Allah untuk menyelamatkan yang hilang untuk selama-lamanya. Kita belajar bahwa

  1. (1) hal mencari orang berdosa yang hilang dengan maksud untuk membawanya kepada keselamatan adalah hal yang terpenting bagi hati Allah (ayat Luk 15:4,8,20,24);
  2. (2) Allah dan sorga bersama-sama bersukacita apabila hanya seorang berdosa bertobat (ayat Luk 15:7,10); dan
  3. (3) tidak ada pengorbanan atau penderitaan yang terlalu besar dalam hal mencari yang hilang dan membawanya kepada Yesus (ayat Luk 15:4,8).

Allah dan para malaikat di sorga memiliki kasih, belas kasihan, dan rasa sedih yang begitu besar terhadap mereka yang jatuh ke dalam dosa dan mati secara rohani, sehingga pada waktu seorang berdosa bertobat, maka mereka dengan terang-terangan bersukacita. Untuk memahami kasih Allah bagi orang berdosa lih. Yes 62:5; Yer 32:41; Yeh 18:23,32; Hos 11:8; Yoh 3:16; Rom 5:6-11; 2Pet 3:9.

Dalam hal ini ada 3 perumpamaan tuhan yang telah dia berikan kepada kita.

  1. Perumpamaan tentang domba yang hilang

lukas 15:1. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. t 15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 15:4 1 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? v 15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku w  yang hilang itu telah kutemukan. 15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga 2  karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

2. Perumpamaan tentang dirham yang hilang

lukas 15:8. “Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya ? 15:9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku y  yang hilang itu telah kutemukan. 15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. z 

3. Perumpamaan tentang anak yang hilang

Lukas 15:11. Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. a 15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. b  Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu c  di antara mereka. 15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh 4 . Di sana ia memboroskan harta miliknya itu d  dengan hidup berfoya-foya. 15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. 15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. e 15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya 5 , katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa f  terhadap sorga dan terhadap bapa, 15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh  , ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan . Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah   yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,   ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 15:25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 15:26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 15:27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 15:28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 15:29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 15:30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur,   maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 15:31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Dalam perumpamaan ini Tuhan mengajar bahwa hidup dalam dosa dan mementingkan diri sendiri, dalam pengertiannya yang terdalam, merupakan pemisahan dari kasih, persekutuan, dan kekuasaan Allah. Orang berdosa atau orang yang mundur dari iman adalah seperti anak bungsu yang dengan memburu kesenangan dosa, memboroskan karunia-karunia jasmani, mental, dan rohani yang diberikan oleh Allah. Hal ini menghasilkan kekecewaan dan kesedihan, kadang kala keadaan pribadinya memalukan, dan ia selalu kehilangan hidup yang benar dan sejati yang hanya dapat ditemukan dalam hubungan yang benar dengan Allah.

Sebelum orang yang hilang dapat datang kepada Allah, mereka harus melihat kedudukan mereka yang sesungguhnya sebagai budak dosa dan terpisah dari Allah (ayat Luk 15:14-17). Mereka harus dengan rendah hati kembali kepada Bapa, mengaku dosanya dan bersedia untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Bapa (ayat Luk 15:17-19). Pekerjaan menyadarkan orang yang hilang ini merupakan karya Roh Kudus (Yoh 16:7-11).

Setiap ayah atau ibu Kristen harus mengerti bahwa Allah mengasihi anak mereka yang sedang mengembara dan merindukan penyelamatannya sama seperti mereka. Berdoa dan percayalah kepada Allah untuk mencari anak itu sampai ia kembali kepada Bapa sorgawi. (Roma 8:10) Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu,   maka tubuh memang mati karena dosa 1 , tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

Gambaran Yesus mengenai tanggapan ayah itu terhadap kembalinya anak tersebut mengajarkan beberapa kebenaran penting:

  1. 1) Allah mempunyai belas kasihan bagi yang hilang oleh karena keadaan mereka yang menyedihkan.
  2. 2) Kasih Allah bagi mereka begitu besar sehingga Ia tidak putus-putusnya bersedih hati atas mereka dan menunggu mereka kembali kepada-Nya.
  3. 3) Ketika orang berdosa dengan tulus hati kembali kepada Allah, maka Allah pun sudah siap untuk menerima mereka dengan pengampunan, kasih, belas kasihan, kasih karunia dan mengaruniakan hak penuh sebagai anak yang sah (bd. Yoh 1:12). Berbagai manfaat kematian Kristus, pengaruh Roh Kudus, dan kekayaan kasih karunia Allah, semuanya tersedia bagi mereka yang mencari Allah.

Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.
Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan   dan dengan segala pengetahuan   dan sanggup untuk saling menasihati.

Dasar utama dari perjanjian adalah kasih

Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Segala emas dan perak di dunia ini milik-Ku. Rumah-Ku yang baru akan lebih cantik daripada yang dahulu, dan di situlah Aku memberi umat-Ku kemakmuran dan kedamaian.” Demikianlah firman TUHAN Yang Maha Kuasa. Seperti Firman Tuhan dalam Yesaya 55:8“RancaanganKu bukanlah Rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu”, bahwa perbuatan Tuhan tidak akan dapat dipikirkan oleh manusia.

Dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” ulg 30:20.

Keselamatan” bukan karena hasil usaha kita tetapi pemberian Allah. Keselamatan yang kita terima berasal dari kasih karunia Allah melalui iman kepada Kristus Yesus.

Di sini tuhan menganjarkan kita cinta dan kasih. dimana dasar utama perjanjian adalah kasih, menerapkan janji ini kepada semua orang yang dengan sungguh-sungguh menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Orang percaya diyakinkan bahwa jikalau mereka mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan tergantung kepada-Nya dan bukan kepada jaminan materiel, Tuhan tidak akan membiarkan atau meninggalkannya, tetapi akan menjadi penolong mereka. Karena janji ini, kita harus menjadi “kuat dan teguh. ulg 31:6 bertahan dalam ujian, melawan pencobaan, percaya kepada Tuhan, dan menaati Dia sepenuhnya. Hanya satu hal yang pasti kita perlu ketahui bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28).

Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu”.

Ini semua adalah keputusan untuk kita pilih dan tetapkan dalam diri kita. Hidup adalah pilihan, Tuhan Yesus mengatakan “Akulah jalandan kebenarandan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Kehidupan itu telah diperlihatkan bagi kita hanya ada pada iman kepada Yesus, yang tidak akan mungkin kita temukan ditempat lain.

Alkitab adalah saksi Allah yang benar dan tidak salah tentang tindakan penyelamatan manusia dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu, Alkitab tidak ada bandingannya, sudah sempurna dan secara khas mengikat. Tidak ada perkataan manusia atau pernyataan lembaga keagamaan yang setara dengan kekuasaan Firman Allah. Firman Allah harus diterima, dipercaya, dan ditaati sebagai kekuasaan terakhir dalam seluruh hal yang berhubungan dengan kehidupan dan kesalehan.

Sejauh manapun kita pergi meninggalkan Tuhan mengikuti kemauan kita ataupun mengikuti nafsu duniawi tetap pada akhirnya kita akan sampai pada titik akhir perjalanan kehidupan ini di depan pengadilan Tuhan. Maka menyesal kemudian tiada arti, kesempatan yang Tuhan berikan bagi kita untuk mengikut Dia adalah anugerahNya untuk keselamatan kita. Tuhan mengasihi kita, maka Ia memberikan pengajaran supaya kita tidak salah jalan – salah memilih jalan hidup.

Sekarang adalah bagaimana kita dapat menghayati keselamatan itu dalam hidup kita sehari-hari? Hal utama yang harus kita sadari bahwa kita hidup beriman bukan sedang berusaha supaya memperoleh keselamatan, namun kita telah hidup dalam keselamatan itu, dan kita sedang memperlihatkan hidup sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah yang memberikan tempat bersama dengan Dia di sorga. Sehingga manusia yang telah diselamatkan adalah orang yang telah mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan memperlihatkan dan mengerjakan keselamatan yang telah diberikan.

Dalam menjalani hidup ini, adalah wajar sebelum melakukan sesuatu kita membuat strategi dan rencana yang matang. Namun kita harus percaya, sehebat apapun kita berencana dan melakukan berbagai strategi dalam kehidupan ini, tetap rancangan Tuhan adalah rancangan terbaik dalam hidup ini. Karena belum tentu yang kita rancangkan itu adalah yang terbaik bagi diri kita, sebagaimana tertulis di Amsal 16: 9 “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”.

Rumah yang paling indah adalah yang di dalamnya ada cinta Kristus.

Terkadang hidup yang kita jalani ingin semua serba instant. Apapun ingin dilakukan dengan cara yang instant. Seperti halnya Ketika kita sakit kita berdoa dan ingin minta kesembuhan saat itu juga, ketika kita butuh sesuatu kita berdoa dan ingin mendapatkannya dalam sekejap mata, ketika kita memiliki masalah kita berdoa supaya masalahnya cepat selesai tanpa kita berusaha untuk melakukan sesuatu, ketika kita menghadapi ujian sekolah kita berdoa supaya mendapatkan nilai yang bagus tapi kita tidak belajar, dan ketika kita ingin sukses kita berdoa untuk bisa mendapatkan uang tanpa bekerja dengan giat. Apakah itu yang selama ini kita jalani? Tuhan mengingatkan setiap kita bahwa ada proses yang harus kita hadapi untuk bisa melewati itu semua. Apa yang terjadi jika Tuhan mengabulkan semua doa kita tanpa proses dari-NYA? Kita akan menjadi pribadi yang gampangan, pribadi yang ingin enaknya saja tanpa memikirkan apa apa, tidak menghargai apa yang sudah Tuhan berikan. yohanes 1:4 Padaku tidak ada kegembiraan yang lebih besar daripada ini, yaitu jikalau aku mendengar bahwa anak-anakku hidup menurut kebenaran.

Hai Saudaraku yang kukasihi, janganlah engkau meniru yang jahat, melainkan yang baik. Orang yang berbuat baik itu berasal dari Allah, sedang orang yang berbuat jahat belum mengenal Allah. Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ulangan 6:1.

Yakobus 1:2-3 “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Ayat ini yang menjadi pedoman dan kekuatan saya ketika saya sudah mulai jenuh dan merasa tidak mampu melewati proses yang Tuhan berikan.