
Bagi orang Kristen, Paskah penuh dengan lambang yang bersifat nubuat karena menunjuk kepada Yesus Kristus. PB dengan tegas mengajarkan bahwa hari raya Yahudi merupakan “bayangan dari apa yang harus datang” (Kol 2:16-17; Ibr 10:1), yaitu penebusan melalui darah Yesus Kristus. Perhatikan hal-hal berikut dalam pasal Kel 12:1-51 yang mengingatkan kita pada Sang Juruselamat dan kehendak-Nya bagi kita.
Pengorbanan Kristus adalah puncak penebusan Allah untuk umat manusia. Oleh karena itu, tidak mengherankan kita dapat menemukan beberapa ayat di Perjanjian Lama yang berkaitan dengan Paskah.
Alkitab mengecam orang-orang yang mencampur ibadah kepada Allah dengan tradisi dan kebiasaan yang tidak Ia sukai. (Markus 7:6-8) Menurut 2 Korintus 6:17, ”’Pisahkanlah dirimu,’ kata Yehuwa, ’dan berhentilah menyentuh perkara yang najis.’” Paskah adalah hari raya kafir yang akan dihindari orang-orang yang ingin menyenangkan Allah.
Sejak saat yang bersejarah itu, umat Allah senantiasa merayakan Paskah setiap musim semi, sebagai tanggapan kepada perintah-Nya bahwa Paskah merupakan “ketetapan untuk selamanya” (Kel 12:14). Akan tetapi, Paskah merupakan korban peringatan. Hanya korban yang disembelih di Mesirlah yang merupakan korban yang efektif. Sebelum Bait Suci didirikan, setiap hari Paskah orang Israel berkumpul di rumah, menyembelih seekor anak domba, menyingkirkan semua ragi dari rumah mereka dan makan sayur pahit. Yang lebih penting lagi, mereka menceritakan kembali kisah keluaran luar biasa para leluhur mereka dari Mesir dan perbudakan kepada Firaun. Jadi, dari angkatan ke angkatan, umat Ibrani ingat akan penebusan dan pembebasan mereka dari Mesir
Inti dan jiwa peristiwa Paskah adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Allah mengeluarkan orang Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, tetapi karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjian-Nya (lih. Ul 7:7- 10). Demikian pula, keselamatan yang kita terima dari Kristus sampai kepada kita melalui kasih karunia Allah yang menakjubkan (lih. Ef 2:8-10; Tit 3:4-5).
Inilah berita yang mengejutkan dan membawa sukacita bagi mereka. Tidak hanya berhenti sampai disitu, ketika mereka hendak bergegas meninggalkan kubur itu dalam keadaan takut namun bersukacita, Yesus menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu”, …. (Selamat atau Damai bagimu atau damai untukmu). Artinya apa? Allah telah berdamai dengan manusia. Dan perempuan-perempuan ini menjadi saksi atas perdamaian itu. “Jangan takut….”. Perhatikan bahwa dalam perikop ini, kata TAKUT diulang sampai tiga kali. Ini menandakan bahwa Kebangkitan Kristus adalah melenyapkan ketakutan. Ketakutan yang disebabkan oleh dosa yang mengikat dan mengkungkungi umat manusia.
Peristiwa Paskah bagi kita sekarang ini, bukan hanya sekedar mengatakan bahwa kubur telah kosong. Tetapi itu harus menjadi kenyataan yang riil dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang percaya. Adalah bahwa, berita pendamaian, berita kehidupan yang membawa sukacita itu harus menjadi milik semua orang.
Dalam Alkitab terdapat pernyataan-pernyataan tentang kejahatan manusia, yang akan bersaksi sepanjang masa. Dalam menggambarkan hukuman mati yang dialami oleh Yesus Kristus, para penulis kitab Injil menggunakan kata-kata, “Mereka menyalibkan-Nya”. Sebelumnya, belum pernah ada Seorang yang tidak bersalah menanggung caci-maki dan direndahkan begitu rupa oleh manusia. Keseluruhan proses tersebut merupakan pengungkapan akan dosa manusia yang mengerikan.
Darah yang dipercikkan pada tiang pintu dan ambang atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam setiap keluarga dari kematian; darah ini menunjuk kepada penumpahan darah Yesus di salib supaya menyelamatkan kita dari kematian dan dari murka Allah terhadap dosa (Kel 12:13,23,27; Ibr 9:22). 3) Anak domba Paskah itu adalah sebuah “korban” (Kel 12:27) yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung; korban ini menunjuk kepada kematian Yesus Kristus sebagai ganti kematian orang percaya
Memakan daging anak domba itu melambangkan pemanunggalan masyarakat Israel dengan kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Demikian pula, ikut serta dalam Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan kita dalam kematian Kristus, kematian yang menyelamatkan kita dari kematian rohani (1Kor 10:16-17; 1Kor 11:24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah, hanyalah korban yang pertama, kematian-Nya di salib, menjadi korban yang efektif. Kita mengadakan Perjamuan Kudus sebagai suatu “peringatan” akan Dia (1Kor 11:24). Alkitab menulis tentang kekejaman yang tak berbelas kasihan dari para prajurit Romawi. Mereka mencambuk dan memukul Dia. Mengolok-olok Dia. Meludahi Dia. Memakaikan mahkota duri pada kepala-Nya. Mereka membawa Dia keluar dalam keadaan penuh luka dan darah, dan menyalibkan-Nya. Sungguh mengerikan!
Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang atasnya dilaksanakan dengan iman yang taat (Kel 12:28; bd. Ibr 11:28); tanggapan iman ini mendatangkan penebusan melalui darah (Kel 12:7,13). Keselamatan melalui darah Kristus diperoleh hanya melalui “ketaatan yang disebabkan oleh iman” (Rom 1:5; bd. Rom 16:26). 7) Anak domba Paskah harus dimakan bersama dengan roti yang tidak beragi (Kel 12:8). Karena ragi dalam Alkitab biasanya melambangkan dosa dan pencemaran
Setelah penyaliban dan kematian Yesus, para murid dan perempuan-perempuan yang setia melayani Yesus tidak berani keluar rumah. Ketakutan yang memang beralasan karena keberadaan mereka tidak dapat dilepaskan dengan sosok Yesus yang disalib oleh Orang-orang Yahudi dan tentara Romawi. Peristiwa penyaliban Yesus dapat saja menyeret mereka pada bahaya bahwa mereka adalah pengikut-pengikut Yesus. Dengan kata lain, bukan tidak mungkin merekapun menjadi target berikutnya dari para Imam, orang Yahudi dan penguasa Romawi. Mereka hanya menunggu apa yang akan terjadi setelah Yesus di salib dan mati. Dan pada hari Minggu pagi itu, Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi menengok kubur dimana Yesus dikuburkan. Apa yang terjadi? Ditengah perasaan yang tidak menentu, perasaan takut yang masih menyelimuti, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Malaikat Tuhan. Malaikat Tuhan yang menyapa mereka, “Janganlah takut….Ia tidak ada disini. Ia telah bangkit “.









